Selasa, 16 Maret 2010

ingin kaya pamer di srabaya sok kerren

Tony Rafty ingin sekali bisa mengunjungi Surabaya, kota yang memberinya banyak kenangan. Dia juga berharap karya-karyanya yang "sebagian telah diarsip dan menjadi milik National Library of Australia di Canberra" bisa dipamerkan di Surabaya.

=====

SELAIN sebagai jurnalis, Tony Rafty adalah seniman otodidak yang tekun. Berbekal pena dia merekam kejadian di Indonesia era perjuangan dengan cara yang unik, yaitu sketsa. Karena keunikannya itulah, lantas Rafty sering bertemu dengan presiden pertama RI, Soekarno. Tidak untuk urusan berita saja, tapi juga sebagai teman diskusi, terutama soal kesenian.

Kalau sudah bertiga: Rafty, Soekarno, dan Affandi (pelukis), semua bisa lupa waktu. Rafty menunjukkan sketsa pelukis ekspresionis dari Jogja, Affandi, di atas kertas ukuran A-3 yang juga dibubuhi tanda tangan sang maestro.

Kalau berada di rumah Affandi, sepertinya tak ada perbedaan antara presiden, wartawan, atau pelukis. Semua teman. Perjuangan Indonesia, lukisan, semua dibicarakan tanpa beban apa-apa. "Dia (Soekarno, Red) sangat senang berbicara tentang masa depan Indonesia, keindahan, dan kesenian. Ngobrol tentang itu bisa dia lakukan hingga berjam-jam meski tanpa kopi," katanya.

Rafty juga berteman dengan Basuki Abdullah. Dia menyesalkan tewasnya sang pelukis realis kelahiran Solo pada 1993. Basuki Abdullah dibunuh pembantunya yang menginginkan arloji mewah miliknya. "Targis," kata Rafty. Kali ini dia menunjukkan dua buah gambar. Yang satu adalah sketsa dirinya yang dibuat oleh Basuki Abdullah. Gambar satunya lagi adalah sketsa Basuki Abdullah karya Tony Rafty. Dari dulu sesama pelukis agaknya tidak dilarang saling melukis.

Setelah lima bulan meliput perang kemerdekaan di Surabaya, pada Februari 1946 Rafty pulang ke Australia untuk kembali bekerja di harian The Sun dan berkumpul dengan ketujuh saudaranya di Sydney. Ketekunan Rafty dalam membuat sketsa tak pernah berhenti. Bahkan, keterampilannya membuat sketsa juga dia kembangkan menjadi pelukis karikatur.

Anak imigran asal Yunani yang datang ke Australia pada 1902 itu di kemudian hari membuat banyak karikatur untuk diterbitkan di harian The Sun. Harian The Sun telah berganti nama dan hidup satu atap di bawah grup Fairfax bersama The Sydney Morning Herald.

Menyebut koran tempatnya bekerja dulu, Rafty lalu teringat Gus Dur. Dia buru-buru membongkar tumpukan gambar di samping meja di lantai dua. Setelah yang dicarinya ketemu, gambar itu ditunjukkan kepada Jawa Pos. "Kamu kenal dengan orang ini" tanyanya.

Ternyata yang Rafty tunjukkan adalah gambar Gus Dur. Pada gambar itu tak hanya Gus Dur yang membubuhkan tanda tangan, tapi juga Nyonya Sinta Nuriyah. Gambar itu dia bikin saat Gus Dur mengunjungi putrinya, Yenny Wahid, yang pernah bekerja sebagai wartawan The Sydney Morning Herald.

Setiap goresan yang ditorehkan Rafty adalah rekaman sejarah yang dilalui dan dilihatnya. Ketika menceritakan sebuah sketsa yang diberi judul Surabaya Port (Pelabuhan Surabaya) saat dia berada di Kota Pahlawan, Rafty seperti menerawang pada masa berpuluh tahun lalu saat Pelabuhan Tanjung Perak masih dipenuhi perahu dan kapal-kapal dengan yang layar digulung saat merapat di dermaga.

Para kuli pelabuhan bertubuh kekar dan telanjang dada memanggul drum-drum berisi anggur. "Waktu itu pelabuhannya sangat indah dan bersih. Bagaimana sekarang?" tanya Rafty kepada Jawa Pos. "Oh, Pelabuhan Surabaya tetap indah dan airnya bersih," jawab saya.

Karikaturis yang pensiun dari The Sun pada 1980 itu pun tersenyum senang atas jawaban saya. "Nanti kalau saya ke Surabaya, tolong antar saya ke sana (Pelabuhan Tanjung Perak) ya. Saya ingin melihat," pintanya.

Apakah ada keinginan memamerkan karya-karyanya yang bernilai sejarah itu di Surabaya" "Tentu," jawab Rafty. Meski tak tahu persis jumlah gambar yang dibuat saat berada di Indonesia, Rafty memastikan lebih dari 200 gambar. Itu yang sekarang ada di rumahnya. Yang telah disimpan di National Library of Australia sekitar 50 gambar.

Dua hari kemudian, ketika Jawa Pos melihat karya-karya Rafty di Perpustakaan Nasional di Canberra, semua karya yang menggambarkan peristiwa di Indonesia pada 1945 itu ditata rapi di atas meja gedung perpustakaan di lantai dua. Sketsa pertempuran di Surabaya, tokoh-tokoh pergerakan seperti Hatta, Sjahrir, Soekarno, Adam Malik, semua dilekatkan pada sebidang kayu dan dilindungi dengan lapisan khusus guna menjaga keawetan lukisan. Karya berbagai ukuran itu diletakkan di atas tiga meja panjang. Tidak digantung di dinding seperti biasanya saat lukisan dipamerkan di galeri seni rupa.

Tentang kemungkinan apakah karya-karya Rafty bisa dipinjam untuk dipamerkan di Indonesia, Jawa Pos mencoba menemui kepala perpustakaan. Intinya bisa. Tapi, ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi. Misalnya, harus ada uang jaminan dan asuransi terhadap karya-karya itu saat dibawa ke Indonesia.

Setelah ngobrol panjang lebar dengan Tony Rafty, saya pun pamit. Tuan rumah yang penuh semangat itu mengantarkan hingga jalan depan rumahnya tempat taksi telah menungu. Sesaat sebelum saya naik taksi, Rafty meminta saya mengucapkan sebuah kata yang akan dia ingat.

"Surabaya," kata saya.


Comments :

0 komentar to “ingin kaya pamer di srabaya sok kerren”

Poskan Komentar

Arsip Blog

 

Copyright © 2009 by achmad muhammad ma'shum muhibbaddin 'ainul yaqin dan allohurbbi