Selasa, 16 Maret 2010

PENELITIAN tim analis Densus 88 Mabes Polri terkait dengan pendanaan jaringan Dulmatin semakin menunjukkan titik terang. Salah satu fakta yang terungkap adalah penyumbang dana terbesar jaringan ini. "Donatur terbesar Dulmatin ini Kang Jaja atau sering disebut Ajengan Jaja," kata seorang perwira analis kepada Jawa Pos kemarin ( 15/03) Jaja yang tertembak di Leupung, Aceh Besar, Jumat lalu (12/3) memang terkenal kaya. Dia punya bisnis ekspedisi, tambak, dan perbengkelan. "Secara hukum, semua bisnis Jaja legal. Tapi, dana pribadi Jaja yang kami duga digunakan men-support Dulmatin," katanya. Karena itu, perusahaan dan bisnis Jaja seperti CV Sajira Media Karya selama ini tak pernah dihentikan operasinya oleh polisi. "Secara bisnis mereka sah, putus kontak dengan jaringan pendanaan teror ini. Itulah yang menyulitkan kami melakukan upaya hukum terhadap bisnis Jaja," katanya. Sumber itu menyebut, sejak 2003 sebenarnya Jaja sudah masuk radar. "Bahkan, saat konflik Ambon, nama ini sudah sangat terkenal di lingkungan intelijen," katanya. Saat itu, 1999-2000, Densus 88 belum terbentuk. Kehebatan Dulmatin dalam propaganda dan restu seorang pimpinan senior JI (Zulkarnaen, masih buron, Red) membuat Jaja takluk membantu teroris asal Pemalang, Jawa Tengah itu. "Sekali menyatakan baiat ke Dulmatin, seluruh resources dan jaringan Jaja tunduk pada komando Dulmatin," katanya. Dana pelatihan teror jihad ala Dulmatin diindikasikan berasal dari empat jalur. Pertama, sisa dana ''jihad" Mindanao. Sebagian berupa mata uang peso yang sudah diuangkan di Kota General Santos, Filipina. Kedua, sumbangan faksi-faksi teroris di luar negeri yang disalurkan melalui jalur Malaysia, Thailand Selatan, dan Filipina. Sebagian uang dolar sudah diuangkan di money changer Menteng senilai USD 1.100. "Kami mendapat data dari cap keluar masuk check point Imigrasi di paspor atas nama Yahya Ibrahim," kata perwira menengah itu. Ketiga, dana sunduq (iuran) anggota jaringan. Besarnya bervariasi mulai Rp 100 ribu hingga jutaan rupiah per orang. "Beberapa orang mengaku dikenakan kewajiban menyetor dana jihad dalam jumlah besar, tak peduli dari mana asalnya. Ini mengadopsi cara NII dulu mengembangkan organisasinya," kata sumber itu. Keempat, sumbangan donatur dalam negeri. Polisi mencurigai beberapa nama yang diduga memberikan sumbangan dalam jumlah besar. "Mereka ini tersebar di Jawa, Sulawesi, bahkan Kalimantan," katanya. Sebagian dari nama yang ada dalam daftar polisi itu kini telah dipantau. "Tidak mungkin dilakukan penangkapan tanpa bukti yang cukup," ujarnya. Pengamat terorisme Mardigu Wowiek Prasantyo menilai analisis Densus tepat. "Jaja ini mempunyai kekuatan akses yang luar biasa. Dia mengirim orang berkali-kali ke Mindanao. Dia beli senjata, dia membuat lembaga bantuan kemanusiaan di Ambon sebagai kedok. Pokoknya orang hebat di jaringan," katanya. Wibawa Jaja memungkinkan Dulmatin mencari dana dari orang yang baru saja dikenal. "Ilustrasinya begini. Jaja mengajak Dulmatin menemui si X. Karena hormat kepada Jaja dan sungkan dengan karismanya, X ini pasti tanpa ragu menyumbang," katanya. Untuk menutupi kedok penggunaan dana, Dulmatin atau Jaja bisa saja menggunakan dalih untuk mengembangkan bisnis. "Seperti dalam kasus Syaifudin Zuhri di bom Marriott 2009. Dia melobi pengusaha Arab untuk bisnis warnet. Dananya dipakai untuk beli bahan peledak," katanya. Sayang, baik Jaja maupun Dulmatin sudah tewas. "Harapannya tinggal pada 31 tersangka yang tertangkap. Mereka harus bisa diinterogasi. Kalau perlu, gunakan pendekatan pikiran," kata Mardigu yang ahli hipnoterapi itu. Dikonfirmasi wartawan soal dana Dulmatin ini, Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Edward Aritonang menjelaskan, semua jalur penyelidikan sedang dilakukan tim. "Termasuk siapa saja yang menyokong dana. Itu penting untuk mengusut tuntas kelompok teroris yang membahayakan masyarakat ini," katanya kepada wartawan di Mabes Polri kemarin. Edward juga tak menampik kemungkinan Dulmatin dibantu jaringan teror di luar negeri. "Arah ke sana bisa saja. Mari kita tunggu penyidikannya hingga tuntas," kata jenderal bintang dua itu.

PENELITIAN tim analis Densus 88 Mabes Polri terkait dengan pendanaan jaringan Dulmatin semakin menunjukkan titik terang. Salah satu fakta yang terungkap adalah penyumbang dana terbesar jaringan ini. "Donatur terbesar Dulmatin ini Kang Jaja atau sering disebut Ajengan Jaja," kata seorang perwira analis kepada Jawa Pos kemarin ( 15/03)

Jaja yang tertembak di Leupung, Aceh Besar, Jumat lalu (12/3) memang terkenal kaya. Dia punya bisnis ekspedisi, tambak, dan perbengkelan. "Secara hukum, semua bisnis Jaja legal. Tapi, dana pribadi Jaja yang kami duga digunakan men-support Dulmatin," katanya.

Karena itu, perusahaan dan bisnis Jaja seperti CV Sajira Media Karya selama ini tak pernah dihentikan operasinya oleh polisi. "Secara bisnis mereka sah, putus kontak dengan jaringan pendanaan teror ini. Itulah yang menyulitkan kami melakukan upaya hukum terhadap bisnis Jaja," katanya.

Sumber itu menyebut, sejak 2003 sebenarnya Jaja sudah masuk radar. "Bahkan, saat konflik Ambon, nama ini sudah sangat terkenal di lingkungan intelijen," katanya. Saat itu, 1999-2000, Densus 88 belum terbentuk.

Kehebatan Dulmatin dalam propaganda dan restu seorang pimpinan senior JI (Zulkarnaen, masih buron, Red) membuat Jaja takluk membantu teroris asal Pemalang, Jawa Tengah itu. "Sekali menyatakan baiat ke Dulmatin, seluruh resources dan jaringan Jaja tunduk pada komando Dulmatin," katanya.

Dana pelatihan teror jihad ala Dulmatin diindikasikan berasal dari empat jalur. Pertama, sisa dana ''jihad" Mindanao. Sebagian berupa mata uang peso yang sudah diuangkan di Kota General Santos, Filipina.

Kedua, sumbangan faksi-faksi teroris di luar negeri yang disalurkan melalui jalur Malaysia, Thailand Selatan, dan Filipina. Sebagian uang dolar sudah diuangkan di money changer Menteng senilai USD 1.100. "Kami mendapat data dari cap keluar masuk check point Imigrasi di paspor atas nama Yahya Ibrahim," kata perwira menengah itu.

Ketiga, dana sunduq (iuran) anggota jaringan. Besarnya bervariasi mulai Rp 100 ribu hingga jutaan rupiah per orang. "Beberapa orang mengaku dikenakan kewajiban menyetor dana jihad dalam jumlah besar, tak peduli dari mana asalnya. Ini mengadopsi cara NII dulu mengembangkan organisasinya," kata sumber itu.

Keempat, sumbangan donatur dalam negeri. Polisi mencurigai beberapa nama yang diduga memberikan sumbangan dalam jumlah besar. "Mereka ini tersebar di Jawa, Sulawesi, bahkan Kalimantan," katanya. Sebagian dari nama yang ada dalam daftar polisi itu kini telah dipantau. "Tidak mungkin dilakukan penangkapan tanpa bukti yang cukup," ujarnya.

Pengamat terorisme Mardigu Wowiek Prasantyo menilai analisis Densus tepat. "Jaja ini mempunyai kekuatan akses yang luar biasa. Dia mengirim orang berkali-kali ke Mindanao. Dia beli senjata, dia membuat lembaga bantuan kemanusiaan di Ambon sebagai kedok. Pokoknya orang hebat di jaringan," katanya.

Wibawa Jaja memungkinkan Dulmatin mencari dana dari orang yang baru saja dikenal. "Ilustrasinya begini. Jaja mengajak Dulmatin menemui si X. Karena hormat kepada Jaja dan sungkan dengan karismanya, X ini pasti tanpa ragu menyumbang," katanya.

Untuk menutupi kedok penggunaan dana, Dulmatin atau Jaja bisa saja menggunakan dalih untuk mengembangkan bisnis. "Seperti dalam kasus Syaifudin Zuhri di bom Marriott 2009. Dia melobi pengusaha Arab untuk bisnis warnet. Dananya dipakai untuk beli bahan peledak," katanya.

Sayang, baik Jaja maupun Dulmatin sudah tewas. "Harapannya tinggal pada 31 tersangka yang tertangkap. Mereka harus bisa diinterogasi. Kalau perlu, gunakan pendekatan pikiran," kata Mardigu yang ahli hipnoterapi itu.

Dikonfirmasi wartawan soal dana Dulmatin ini, Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Edward Aritonang menjelaskan, semua jalur penyelidikan sedang dilakukan tim. "Termasuk siapa saja yang menyokong dana. Itu penting untuk mengusut tuntas kelompok teroris yang membahayakan masyarakat ini," katanya kepada wartawan di Mabes Polri kemarin.

Edward juga tak menampik kemungkinan Dulmatin dibantu jaringan teror di luar negeri. "Arah ke sana bisa saja. Mari kita tunggu penyidikannya hingga tuntas," kata jenderal bintang dua itu.

Comments :

0 komentar to “PENELITIAN tim analis Densus 88 Mabes Polri terkait dengan pendanaan jaringan Dulmatin semakin menunjukkan titik terang. Salah satu fakta yang terungkap adalah penyumbang dana terbesar jaringan ini. "Donatur terbesar Dulmatin ini Kang Jaja atau sering disebut Ajengan Jaja," kata seorang perwira analis kepada Jawa Pos kemarin ( 15/03) Jaja yang tertembak di Leupung, Aceh Besar, Jumat lalu (12/3) memang terkenal kaya. Dia punya bisnis ekspedisi, tambak, dan perbengkelan. "Secara hukum, semua bisnis Jaja legal. Tapi, dana pribadi Jaja yang kami duga digunakan men-support Dulmatin," katanya. Karena itu, perusahaan dan bisnis Jaja seperti CV Sajira Media Karya selama ini tak pernah dihentikan operasinya oleh polisi. "Secara bisnis mereka sah, putus kontak dengan jaringan pendanaan teror ini. Itulah yang menyulitkan kami melakukan upaya hukum terhadap bisnis Jaja," katanya. Sumber itu menyebut, sejak 2003 sebenarnya Jaja sudah masuk radar. "Bahkan, saat konflik Ambon, nama ini sudah sangat terkenal di lingkungan intelijen," katanya. Saat itu, 1999-2000, Densus 88 belum terbentuk. Kehebatan Dulmatin dalam propaganda dan restu seorang pimpinan senior JI (Zulkarnaen, masih buron, Red) membuat Jaja takluk membantu teroris asal Pemalang, Jawa Tengah itu. "Sekali menyatakan baiat ke Dulmatin, seluruh resources dan jaringan Jaja tunduk pada komando Dulmatin," katanya. Dana pelatihan teror jihad ala Dulmatin diindikasikan berasal dari empat jalur. Pertama, sisa dana ''jihad" Mindanao. Sebagian berupa mata uang peso yang sudah diuangkan di Kota General Santos, Filipina. Kedua, sumbangan faksi-faksi teroris di luar negeri yang disalurkan melalui jalur Malaysia, Thailand Selatan, dan Filipina. Sebagian uang dolar sudah diuangkan di money changer Menteng senilai USD 1.100. "Kami mendapat data dari cap keluar masuk check point Imigrasi di paspor atas nama Yahya Ibrahim," kata perwira menengah itu. Ketiga, dana sunduq (iuran) anggota jaringan. Besarnya bervariasi mulai Rp 100 ribu hingga jutaan rupiah per orang. "Beberapa orang mengaku dikenakan kewajiban menyetor dana jihad dalam jumlah besar, tak peduli dari mana asalnya. Ini mengadopsi cara NII dulu mengembangkan organisasinya," kata sumber itu. Keempat, sumbangan donatur dalam negeri. Polisi mencurigai beberapa nama yang diduga memberikan sumbangan dalam jumlah besar. "Mereka ini tersebar di Jawa, Sulawesi, bahkan Kalimantan," katanya. Sebagian dari nama yang ada dalam daftar polisi itu kini telah dipantau. "Tidak mungkin dilakukan penangkapan tanpa bukti yang cukup," ujarnya. Pengamat terorisme Mardigu Wowiek Prasantyo menilai analisis Densus tepat. "Jaja ini mempunyai kekuatan akses yang luar biasa. Dia mengirim orang berkali-kali ke Mindanao. Dia beli senjata, dia membuat lembaga bantuan kemanusiaan di Ambon sebagai kedok. Pokoknya orang hebat di jaringan," katanya. Wibawa Jaja memungkinkan Dulmatin mencari dana dari orang yang baru saja dikenal. "Ilustrasinya begini. Jaja mengajak Dulmatin menemui si X. Karena hormat kepada Jaja dan sungkan dengan karismanya, X ini pasti tanpa ragu menyumbang," katanya. Untuk menutupi kedok penggunaan dana, Dulmatin atau Jaja bisa saja menggunakan dalih untuk mengembangkan bisnis. "Seperti dalam kasus Syaifudin Zuhri di bom Marriott 2009. Dia melobi pengusaha Arab untuk bisnis warnet. Dananya dipakai untuk beli bahan peledak," katanya. Sayang, baik Jaja maupun Dulmatin sudah tewas. "Harapannya tinggal pada 31 tersangka yang tertangkap. Mereka harus bisa diinterogasi. Kalau perlu, gunakan pendekatan pikiran," kata Mardigu yang ahli hipnoterapi itu. Dikonfirmasi wartawan soal dana Dulmatin ini, Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Edward Aritonang menjelaskan, semua jalur penyelidikan sedang dilakukan tim. "Termasuk siapa saja yang menyokong dana. Itu penting untuk mengusut tuntas kelompok teroris yang membahayakan masyarakat ini," katanya kepada wartawan di Mabes Polri kemarin. Edward juga tak menampik kemungkinan Dulmatin dibantu jaringan teror di luar negeri. "Arah ke sana bisa saja. Mari kita tunggu penyidikannya hingga tuntas," kata jenderal bintang dua itu.”

Poskan Komentar

Arsip Blog

 

Copyright © 2009 by achmad muhammad ma'shum muhibbaddin 'ainul yaqin dan allohurbbi